NASIONAL

Apa Dampak Serangan AS ke Venezuela Bagi Ekonomi RI? Jawaban Menkeu Purbaya Bikin Tenang: Kan Jauh

nuruddinalmai 273 hari yang lalu Dilihat 12 kali
DAMPAK SERANGAN AS – Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui usai sidang kabinet yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). Purbaya baru-baru ini ikut menanggapi dampak serangan AS ke Venezuela yang mengguncang dunia. Menurutnya, hal ini tak berdampak bagi ekonomi RI.

SURYA.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai situasi genting di Venezuela pascapenangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat tidak membawa konsekuensi berarti bagi perekonomian Indonesia.

Faktor jarak geografis yang sangat jauh serta terbatasnya hubungan dagang menjadi alasan utama minimnya efek rambatan ke dalam negeri.

“Itu kan jauh dari negara kita,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, (5/1/2026), melansir dari Tribunnews.

Menurut Purbaya, Indonesia tidak memiliki ketergantungan signifikan terhadap Venezuela, baik dari sisi perdagangan maupun kerja sama strategis.

Karena itu, gejolak politik yang terjadi di negara Amerika Latin tersebut dinilai tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Migas Global Tetap Stabil

Purbaya juga menyoroti sektor energi global, khususnya minyak dan gas bumi.

Ia menyebut peran Venezuela di pasar minyak dunia sudah lama meredup akibat keterbatasan kapasitas produksi.

Kondisi ini membuat krisis politik di negara tersebut tidak memicu gangguan pasokan global.

“Harga minyak kan, mungkin mereka pikir akan turun suplainya, tapi kan Amerika sudah izinkan, (pengeboran) Alaska jadi ga ngaruh ke suplai dan ke depan kalau dijalankan peningkatan produksinya ya akan bagus juga untuk harga minyak dan suplai minyak dunia,” katanya.

Dengan kebijakan Amerika Serikat yang membuka peluang peningkatan produksi minyak domestik, Purbaya optimistis keseimbangan pasokan minyak dunia tetap terjaga dan harga global tidak akan terdorong naik secara ekstrem.

Purbaya Soroti Lemahnya Hukum Internasional

Di luar aspek ekonomi, Purbaya turut mengkritisi dinamika hukum internasional yang dinilainya semakin janggal.

Ia menyoroti lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam merespons tindakan agresif terhadap negara berdaulat.

“Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat, negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa gate away dari pengawasan PBB. jadi PBB-nya amat lemah sekarang,” kata Purbaya.

Pernyataan tersebut disampaikan seiring mencuatnya isu penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat dari kompleks kepresidenan pada Sabtu (3/1/2026).

Maduro dilaporkan tiba di pengadilan federal New York, Senin (5/1/2026), setelah dipindahkan dari fasilitas penahanan dengan pengamanan ketat.

Ia terlihat mengenakan borgol tangan dan pengaman kaki, serta diangkut menggunakan kendaraan lapis baja.

“Langkah ini menempatkan pemimpin tersebut berhadapan langsung dengan Departemen Kehakiman AS dalam apa yang dianggap sebagai salah satu kasus politik dan kriminal paling kompleks dalam sejarah baru-baru ini,” tulis laporan RNTV, Senin

Proses hukum terhadap Maduro berawal dari penyelidikan panjang aparat penegak hukum Amerika Serikat.

Ia bersama sejumlah koleganya didakwa atas berbagai pelanggaran berat, termasuk tuduhan narkoterorisme atau terorisme narkoba.

Jaksa menyebut adanya jaringan terorganisir yang memanfaatkan jabatan negara untuk melancarkan serta melindungi distribusi narkoba ilegal dalam jumlah besar menuju Amerika Serikat.

Pertahanan Venezuela Lumpuh

Defense Express meninjau rekaman helikopter CH-47 Chinook di atas ibu kota. Meski Rusia memasok sistem Buk-M2 dan Pantsir pada 2024, tetapi keduanya tak berfungsi.

Sistem itu diduga sudah dinetralisir oleh serangan elektronik AS. ODIN menjelaskan Buk-M2 adalah sistem SAM jarak menengah buatan Rusia.

nformasi yang SURYA.co.id himpun SA-17 Grizzly merupakan versi peningkatan Buk-M1, dirancang menghadapi pesawat dan rudal. Namun saat serangan berlangsung,sistem ini tidak menunjukkan aktivitas.

Pantsir-S1, kombinasi senjata dan rudal anti-pesawat, juga gagal beroperasi.  Pantsir dirancang mencegat UAV dan amunisi presisi, tetapi tak ada peluncuran rudal.

Sumber militer menyebut sistem itu lumpuh akibat serangan siber dan jamming radar.

Sementara,m Angkatan Udara Venezuela mengandalkan 21 jet Su-30MKV buatan Rusia. Namun jet-jet itu tidak sempat lepas landas karena radar dan komunikasi dilumpuhkan.

Strategi AS

Operasi AS dini hari itu disebut mengakhiri cengkeraman Maduro atas Venezuela. Delta Force menangkap Maduro di kompleks Puerta Tizona. 

CIA mengetahui keberadaan Maduro setelah mengumpulkan data intelijen dari agen rahasia selama berbulan-bulan untuk misi ini. Kabarnya, tim CIA beroperasi diam-diam di Venezuela sejak Agustus 2025. 

CIA diketahui melacak pergerakan Maduro menggunakan agen lapangan dan citra satelit. 

Jenderal Dan Caine menyebut misi ini puncak perencanaan panjang. Ia menegaskan koordinasi melibatkan lintas cabang militer dan intelijen.

Pasukan elit juga disebut berlatih di replika lokasi persembunyian Maduro. CIA memiliki sumber internal di pemerintahan Venezuela.

AS mengerahkan USS Iwo Jima lalu ditempatkan di Karibia berbulan-bulan sebelum operasi. Kapal itu bergabung dengan USS New York dan USS Fort Lauderdale.

AS juga menyiapkan 12 kapal perang di kawasan, termasuk USS Gerald R. Ford. Jet tempur ditempatkan di Puerto Rico untuk mendukung operasi.

Tribunnews melaporkan keduanya ditangkap saat tidur di kamar. Trump mengatakan unit kedua siap menangkap jika mereka lolos.

Maduro dan Flores dievakuasi ke USS Iwo Jima. Di kapal, mereka menjalani identifikasi biometrik dan pemeriksaan medis.

Sesampainya di AS, keduanya akan diadili atas tuduhan narkoterorisme. Bondi menegaskan Cilia Flores juga akan menghadapi dakwaan meski belum diungkap detail.

Berita Lainnya